Sabtu, 17 November 2012

Jejak - Ceren


Jejak

   Jejak-jejak itu masih teringat jelas di benak Indi, jejak darah yang di tinggalkan oleh orang yang telah membunuh ayah, ibu, dan kedua adiknya. Kejadian yang membuatnya semakin tidak mengerti maksud dan tujuan hidup ini. Ditengah isakan tangisnya yang semakin menjadi, dia berpikir, apa alasan orang itu mebunuh ayah, ibu, dan kedua adiknya. Yang ia tahu, ayahnya adalah seorang general manager yang sangat toleren dan selalu memihak pada yang lemah, ibunya adalah seorang dosen bahasa Indonesia yang sangat bersahabat, dan kedua adiknya merupakan anak-anak yang menjadi teladan di sekolah.

*** 3 bulan yang lalu ***

    Di pinggiran jalan di pusat kota inilah tempat biasa Indi dan teman-temannya berkumpul, walaupun baru beberapa bulan tinggal di kota ini, dia sudah seperti akrab dengan kehidupan di kota ini. Bahkan, dia lebih mengetahui seluk beluk kota ini ketimbang anak-anak lain yang sejak lahir memang sudah berada di kota ini. Selain itu, Indi juga merupakan pribadi yang ramah. Senyum, sapa, dan salam adalah prinsip hidup baginya. Tidak heran, dalam jangka waktu yang singkat ini, ada banyak orang yang telah mengenalnya.

    Hari ini adalah hari pembagian nilai semester pertama Indi selama kuliah di Universitasnya, sebut saja Universitas Enen. Hari yang membuat jantungnya tidak henti-hentinya berdebar, dia memikirkan antara dia akan mendapatkan nilai yang bagus atau malah akan mendapatkan kartu undangan spesial dari dosen pembimbingnya, memikirkan janji ayahnya yang akan membelikannya Iphone 5 jika dia mendapatkan nilai IP bagus dan janji ibunya yang akan memberikanya kesempatan untuk merasakan keindahan alam di Paris atau malah mendapatkan pengurangan uang jajan kuliah dan fasilitas-fasilitas mewah dari ayahnya, serta ia akan kehilangan kebebasan untuk keluar rumah seperti yang biasa ibunya berikan kepada dia. Dan tibalah saat dosen pembimbing memanggil namanya, Indi segera berlari menuju suatu balai yang terletak di timur laut mushala universitasnya yang sengaja di gunakan oleh dosen pembimbing dengan alasan keefisiensian ruangan dan ketenangan suasana. Indi sangat senang atas apa yang baru saja ia dengar dan ia terima dari dosen pembimbing, ia mendapatkan nilai IP 3,2 dan semester depan dia bisa mengambil 24 sks.

    Tidak seperti biasa, Indi terlihat aktif belakangan ini, sepertinya sedang ada sesuatu yang sangat dia inginkan. Ternyata memang benar, dia sedang menargetkan untuk mendapatkan nilai IP semester depan diatas 3,2 yang telah dia dapatkan di semester ini, semua itu ia targetkan agar dapat membantunya untuk mempermudah langkahnya mewujudkan keinginanya, kuliah singkat. Selain itu, dia juga menargetkan akan mengambil semester pendek walaupun harus mengorbankan waktu liburan tahunannya. Namun semester pendek akan mulai dia jalani liburan semester depan, karena liburan semester ini akan ia gunakan untuk merasakan indahnya alam Paris dengan membawa sebuah Iphone 5 baru yang merupakan janji ayah dan ibunya.

    Ketika pulang kerumah, biasanya Indi langsung menuju ruang makan untuk segera menyantap makanan lezat yang selalu ibunya sajikan. Namun, kali ini dia tidak melakukan hal itu, karena ia langsung menuju ke kamar tidurnya. Ketika tiba di dalam kamarnya, betapa kagetnya dia, di atas kasur empuknya terlihat kotak Iphone 5 yang di atasnya juga ada sebuah tiket penerbangan ke Paris. Betapa tidak, dia langsung lompat-lompat kegirangan dan berteriak senang, “yee, akhirnya aku punya Iphone 5 dan aku bisa merasakan jalan-jalan di negeri mode dunia.” Kedua adiknya yang merasa terganggu dengan suaranya yang begitu ribut pun segera menuju ke kamar Indi untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika melihat kedua adiknya di depan pintu kamarnya, Indi pun langsung memeluk kedua adiknya yang sangat ia sayangi itu, wajahnya terlihat sedih, yang membuat kedua adiknya  dengan kompak pun bertanya, “mengapa kau bersedih kak?” Indi pun pun menjawab, “kakak sedih karena saat kakak harus berlibur ke paris, kakak tidak bisa mengikutsertakan kalian!” kedua adiknya yang memang cerdas itu pun menanggapi maksud hati kakaknya, “tidak masalah kakak, ini adalah kebahagiaanmu, kau harus menikmatinya tanpa memikirkan kami, kami pasti akan baik-baik saja kok!” mendengar perkataan adiknya tadi, hati Indi pun kembali tegar, dia membenarkan apa yang adiknya katakan tadi, ini adalah kebahagiaanya, dan dia tidak boleh tidak menikmatinya.

   Tibalah saat Indi harus berangkat ke Paris, ia sudah menyiapkan koper beserta barang-barang  yang akan di bawanya sejak kemarin. Dia ke bandara bersama ayah ibunya beserta dua adiknya yang terpaksa harus meliburkan diri karena harus mengantar kakaknya. Jauh sebelum jadwal penerbangannya, Indi duduk di sebelah ibunya di sebuah tempat penungguan sembari kepalanya di sandarkan di pundak ibunya yang sangat ia sayangi itu. Seperti sebagaimana seorang ibu, ibunya terlihat membisikan nasihat-nasihat untuk Indi selama berada di Paris kelak sambil mengelus-eluskan rambut Indi dengan lembut. Indi terlihat senang saat itu juga, karena jarang-jarang ada saat ia bisa bersama dengan ibunya seperti ini. Akhirnya tibalah saat Indi harus segera berangkat ke paris.

    Seminggu sudah Indi berada di Paris, dia sangat menikmati liburannya disana. Dan tibalah saatnya dia untuk kembali ke negara asalnya. Setibanya di depan bandara, ia langsung membeli oleh-oleh di bandara sambil menunggu ayah dan ibunya menjemputnya. Namun betapa sedihnya dia, hingga petang ayah da ibunya tak kunjung datang, dan yang lebih anehnya lagi, ketika dia berusaha menelpon ayah, ibu atau adiknya, tidak pernah ada jawaban. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi.

    Ketika tiba di rumah, dia mengetok pintu depan rumahnya, namun tidak ada seorang pun yang mebukakan pintunya. Ia pun berteriak memanggil-manggil ayah, ibu dan adiknya, namun tidak ada juga yang menyahutnya. Indi semakin khawatir saat itu juga, dengan tenaga yang masih tersisa, dia berusaha mendobrak pintu rumahnya, setelah beberapa lama, akhirnya terbuka juga pintu rumahnya. Betapa kagetnya dia atas apa yang dia lihat saat itu. Ruang tamunya terlihat sangat berantakan sekali, dia pun langsung berlari menuju kamar adiknya untuk memastikan adik-adiknya baik-baik saja. Namun, ketika belum sempat membuka pintu kamar, ia melihat ada jejak-jejak darah di depan kamar adiknya, darah itu terlihat masih baru, dengan air mata yang mulai menetes, segera ia berlari dan membuka kamar adiknya, dan betapa kagetnya dia ketika melihat kedua adiknya terlihat sudah tidak bernyawa dengan tubuh berlumuran darah. Adiknya yang satu tergeletak di dekat meja belajarnya, sedangkan yang satu lagi tergeletak di samping kasur. Indi pun teringat ayah dan ibunya, dengan sigap ia berlari menuju kamar ayah dan ibunya. Dia berlari sambil menangis kencang karena melihat jejak-jejak darah dari kamar adiknya tadi menuju ke kamar ayah dan ibunya. Setiba di depan pintu kamar ayah dan ibunya, Indi langsung membuka pintu kamar, dan dia meronta melihat apa yang ia lihat di depannya, ayah dan ibunya terlihat sudah tidak bernyawa di kasur, sepray-sepray yang biasanya bersih, saat itu telihat kotor berlumuran darah. Indi pun berteriak tidak tentu arah atas apa yang telah terjadi. Namun, di saat hatinya yang hancur itu, dia ingat, dia harus segera mengubungi polisi untuk mencari siapa pemilik jejak-jejak yang sepertinya telah membunuh keluarganya. Ketika dia hendak memasukan nomor telepon polisi terdekat, tiba-tiba lampu rumahnya padam. Indi merasa sangat ketakutan. Dia berpikir kalau yang telah mematikan lampu rumahnya adalah pembunuh yang telah menghabisi semua keluarganya, dia takut kalau dia akan di bunuh juga. Tapi, saat dia akan berteriak meminta pertolongan, lampu kembali hidup di iringi dengan ucapan ulang tahun dari ayah, ibu, dan adik-adiknya yang membawa kue ulang tahun dengan pakaian yang masih berlumuran darah. Indi menangis, dan semakin menangis. Namun, kali ini dia menangis bukan karena takut, tapi karena merasa sangat senang, ternyata keluarganya tidak benar-benar mati, mereka hanya berpura-pura mati untuk memberikan kejutan untuk ulang tahun ke 17 Indi. Terlihat ayah, ibu, dan adik Indi tertawa mengingat kejadian konyol tadi, saat mereka harus menahan tawa melihat Indi benar-benar menangis untuk mereka.

    Indi berlari menghampiri keluarganya, “ ayo kak, jangan cengeng dong, masa udah 17 tahun masih nangis!”, tiba-tiba adiknya memulai pembicaraan yang mengubah suasana yang tadinya masih senyap karena kejadian tadi, menjadi mulai ramai seperti biasanya. Ibunya pun menyuruh Indi untuk membuat sebuah harapan di usianya yang ke 17 ini. Setelah siap membuat sebuah harapan, ayahnya pun menceritakan kronologi kejutan yang telah mereka buat untuk Indi. Tenyata jejak-jejak darah yang Indi lihat di depan kamar adiknya menuju kamar ayah dan ibunya adalah jejak ayahnya yang sengaja ayahnya buat untuk meyakinkan Indi kalau mereka meninggal karena di bunuh oleh seorang pembunuh.

     Sejak kejadian itu, Indi semakin sayang kepada keluarganya, ia semakin semangat kuliah dan mengurangi kebiasaan mainya. Dan yang lebih berubah dari Indi, kini dia menjadi lebih hati-hati, dia tidak mau ulang tahunnya tahun depan, ia akan mendapat kejutan yang dapat membuat jantungnya benar-benar copot. Dan saat dia mengingat kejadian itu, dia tertawa sendiri mengingat kejadian yang mebuatnya terlihat bodoh itu, karena kejadian itu telah berjejak di hatinya.

*** The End ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan Sopan demi perbaikan dan kemajuan bersama ^_^